nasehat seekor anjing

Suatu hari, Abu Yazid sedang berjalan ketika seekor anjing berlari di sampingnya, Abu Yazid sertamerta mengangkat jubahnya. Melihat hal itu, si anjing berkata, “Jika aku kering, aku tidak merugikan. Jika aku basah, tujuh air dan tanah akan mendamaikan kita. Namun jika engkau mengangkat jubahmu seperti orang yang sok suci dan munafik, engkau tidak akan pernah menjadi bersih, tidak akan pernah, walaupun engkau mandi di tujuh samudra.”
Abu Yazid berkomentar, “Engkau tidak suci di luar, sedangkan aku tidak suci di dalam. Mari kita bekerja sama. Semoga usaha bersama kita berdua menjadikan kita berdua suci.”

“Engkau tidak patut menjadi rekanku dan berkelana bersamaku,” jawab anjing itu. “Karena aku ditolak oleh seluruh manusia, sedangkan engkau diterima di kalangan manusia. Setiap orang yang berpapasan denganku akan melemparkan batu ke arahku; mereka itulah yang menjulukimu Raja Para Sufi. Aku tidak pernah menyimpan sepotong tulangpun untuk esok hari; sedangkan engkau menimbun setong penuh gandum untuk esok hari.”
“Aku tidak patut untuk beperjalanan bersama seekor anjing,” ujar Abu Yazid. “Lalu bagaimana mungkin aku berjalanan bersama Sang Abadi dan Kekal? Kemuliaan atas Allah, yang mendidik makhluk terbaik dengan perantara makhluk terburuk”

Abu Yazid melanjutkan, “Kesedihan meliputiku, dan aku kehilangan harapan untuk menjadi hamba Allah yang patuh. Aku berkata pada diriku sendiri, ‘Aku akan pergi ke pasar dan membeli sebuah korset (biasa dikenakan oleh orang-orang non-Muslim), dan akan kuikat pinggangku dengannya, agar reputasiku pudar di mata manusia.’ Maka aku pun pergi mencari korset. Aku melihat sebuah toko yang menjual korset.
Aku berkata dalam hati, ‘Paling-paling harga korset ini satu dirham.’
Lalu aku berkata, ‘Berapa harga korset ini?’
‘Seribu dinar,’ kata si penjual.

Aku menundukkan kepalaku. Lalu aku mendengar sebuah suara dari langit mengatakan “Tidakkah engkau sadar bahwa mereha tidak akan menjual korset untuk mengikat punggang orang sepertimu seharga kurang dari seribu dinar?’
Hatiku gembira mendengarnya, karena akhirnya aku menyadari bahwa Allah peduli pada hamba-Nya.”

(dari:www.sufinews.com)

6 thoughts on “nasehat seekor anjing”

  1. “Aku tidak patut untuk beperjalanan bersama seekor anjing,” ujar Abu Yazid. “Lalu bagaimana mungkin aku berjalanan bersama Sang Abadi dan Kekal? Kemuliaan atas Allah, yang mendidik makhluk terbaik dengan perantara makhluk terburuk”

    Menarik…
    Sesungguhnya di balik suatu keburukan pun ada nilai-nilai kebaikan yang bisa kita ambil.

  2. Sependapat sama #Bli’ Deking # Bachtiar # Dana
    # Emanuel
    Semua hal yang ada di Dunia ini saling berinteraksi dan kita bis belajar
    dari semua ciptaan_Nya. Kebetulan blom nemu nasehat seekor Babi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s