Back to ur heart

Setiap orang tentu ingin bahagia. Namun hal yang menentukan bahagia atau tidaknya seseorang justru sering dientengkan, yaitu perasaan hati.
Ketika menemui suasana tidak enak, biasanya yang terjadi adalah saling menyalahkan. Padahal tak ada hal yang terjadi secara kebetulan. Artinya, segala sesuatu ada sebab-akibatnya termasuk bertemu suasana tersebut. Namun sebab-akibat disini adalah gaib, tak sesederhana aksi dan reaksi belaka. Hidup seorang manusia juga demikian. Masing-masing sampai hari ini tak terlepas dari perjalanan yang dilalui sebelumnya. Kita berada, lahir dan besar dalam lingkungan seperti apa, dan bagaimana cara hidup, kita-lah yang membentuk kita hari ini.
Apapun keadaan yang kita temui adalah akibat perbuatan kita sendiri. Ini yang sulit dipercaya orang di jaman sekarang ini. Istri cerewet, suka ngomel, mata duitan, dilihat sebagai kejelekan istri semata. Demikian pula bila suami malas, sering marah, berjudi, atau apapun adalah kejelekan suami. Orang tua yang tak perhatikan anak-anak, terlalu sibuk bekerja, sering bertengkar, juga hanya dilihat sebagai kejelekan orang tua. Anak tidak patuh, sekolahnya bodoh, pacaran melulu, dianggap kesalahan anak. Sehingga orang tua mensekolahkan anak ke luar kota. Dengan menjauhkan anak dari lingkungannya yang dianggap jelek telah diangggap menyelesaikan masalah, padahal tidaklah demikian.
Mengatasi masalah dengan jalan pintas sesaat saja belum selesai. Kelihatannya selesai namun akar masalah tetap saja belum selesai. Kelihatannya selesai namun akar masalah tetap saja ada. Suatu saat akar masalah dapat muncul dalam skala lebih besar lagi. Dengan menempuh berbagai cara sepertinya dapat teratasi. Sedihnya, orang seperti ini tak sadar perilaku kesehariannya sedang membentuk nasib di masa depan. Kalau cara berpikir dan hidup yang dijalankan keseharian sebagai sebab buruk, sudah pasti akibat yang diterima adalah buruk, dan sebaliknya.
Jadi ketika menemui kesulitan, bagaimana menerimanya? Kita harus mencari penyebab yang ada dalam perasaan (sifat) kita sendiri. Tak perlu mengelak dan mencari tenaga dari luar untuk menyelesaikannya. Mengatur dengan berbagai cara (otak) hanya menyelesaikan masalah di permukaan saja. Justru, sekali lagi yang harus kita atasi adalah akar permasalahannya, yaitu dengan merobah cara berpikir dan berindak kita.
Hal terpenting adalah tinjau diri. Sesungguhnya perasaan itu sangatlah tajam. Perasaan tak dapat berbohong. Ketika menemui suasana atau orang-orang tertentu, bagaimana kita berpikir, bereaksi, bertindak ditentukan kecenderungan jiwa kita. Hal-hal diluar diri kita adalah sebagai jodoh yang diibaratkan bayangan perasaan kita sendiri. Oleh karena itu jika tak senang dengan seseorang, kita tak bisa langsung menyalahkannya. Itu adalah akibat dari perbuatan kita sendiri, sebabnya juga ada dalam perasaan kita sendiri.
Setiap orang pasti berbeda dalam merespon suasana. Meski mendengar suara yang sama, maka orang yang berbeda akan merespon dengan berbeda pula. Orang-orang dengan dasar sifat yang sama akan berkumpul dalam satu kelompok. Bisa bertemu menjadi satu keluarga adalah bukan suatu kebetulan, tetapi karena memiliki kecenderungan jiwa (sifat)  yang sama. Jadi kalau bertemu suami, istri, anak, orang tua, mertua, teman, dan bahkan dengan orang yang tidak kita kenal-pun yang membuat kita susah, mereka adalah cermin diri sendiri. Nah, mulai tahun ini cobalah masing-masing kita selalu meninjau diri.                                      (Sumber: Prajna Pundarika)

2 thoughts on “Back to ur heart”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s