Tuhan telah mati !?

Hujan menghapus senja hingga pekat mengabariku kalau Tuhan telah mati, ach.. siapa lelaki yang membawa kabar itu sampai ketelinggaku? dia juga menuduh kita , kitalah yang membunuh_Nya, berita yang membuatku berfikir, ya…aku juga telah membunuh_Nya, tidak…aku tidak sebengis itu tapi jujur aku telah melukai-Nya, entahlah aku binggung dengan keadaanku dan keadaan ini. Bukankah kita yang telah memanggulkan salip-salip dosa untuk ditebus dengan kematian-Nya. Tapi bukankah dengan kematian Jesus bisa bangkit dan mengabarkan kebangkitan-Nya. Pikiranku sangat kacau hingga ingin ku copoti satu persatu biar terburai dan terberai seperti sobekan sobekan kecil sekecil diriku. Akulah makhluk kecil dengan segala belas kebesaran_Nya sangat kompleks dengan diri sendiri.
Membelah kembali perjalannan hitam putih dari pemikiranku. Aku yang terdiri dari darah daging dan bau hitam, merah , kuning dan putih. Lengkap dengan amarah seperti harimau, bernafsu layaknya serigala, malas seperti kerbau dan serakah seperti monyet tapi kadang bijaksana dan religius. Batas kekacauan telah terhapus, benar-benar memaksaku berfikir, masihkah aku punya pikiran? dunia terlalu berat untuk kucerna dengan dua kepalan isi kepala. Ach.. sudahlah mataku sudah berat ingin terpejam biarlah pikiranku berputar dan terus mencari tentang Qodho dan Qodhar, dimana ditetapkan perputaran karma seperti jam pasir yang terus dibolak balik dengan hukum-Nya, selama aku tidak berfikir untuk keluar dan berhenti menjadi pasir seperti Budha yang meninggalkan kemanusianya menjadi Manusia Unggul seperti lelaki yang mewartakan tentang kematian Tuhan. Ya Manusia Unggul yang mencoba berkendak untuk menguasai dirinya sendiri dan bertindak sebagai mana adanya.
Memang manusia harus menguasai dirinya sendiri dari iblis dan setan- setan batin yang bersembunyi dalam lorong-lorong gelap bayangannya sendiri. Aku telah melukai Tuhan dan menfitnah memiliki andil dalam tiap garis jalanku. Aduh..bodoh sekali aku ini bagaimana Ia bisa ikut serta mencampuri urusan dunia dan alam ini yang sudah jelas telah ditetapkan sebab akibatnya, kenapa aku tidak menghakimi kemunafikan, kesombongan dan kebencian ini dengan fibrasi keilahian_Nya. Lucu dan mengelikan namun aku tidak punya tawa untuk menertawakannya tapi tangis.
Kerinduanku telah menyeretku seperti orang gila tapi tanganku masih erat memegang kehendak untuk berkuasa dan masih mengigil dengan ketakutanku disudut dinding kemanusiannku. Aku yang telah kehilangan unta berpura-pura tidak memilikinya lebih parah lagi kalau aku tidak tau bahwa aku terlahir bersamanya menyusuri siluet-siluet pasir yang terkikis angin, sudahlah malam, jangan siksa aku dengan keterjagaan ini.
Parto menarik selimutnya dan menutupi kepalanya memaksa matanya untuk terpejam dan terbangun di ujung malam mengintip pagi.

12 thoughts on “Tuhan telah mati !?”

  1. # Ady gondronk
    ha ha ha…diiii….
    ga tau nich. AADJ (ada apa dengan juminten)

    # adek
    wwlcombek welcombek…

    *sincan in ON*

    # cabe rawit
    dengan beberapa kejadian ini sepertinya membuat parto pusing dan binggung

    BTW: gaya penulisan mengingatkan pada hoek soegirang
    tetanggan ya ?:mrgreen:

    # bli’ Devari
    seken ini bli’

    *turut bekabung is ON*

    # bli’ Baladika
    matur suksma bli’
    udah berapa ‘lendir’nya
    nunggu traktiran …

    # mbok Arie
    ya bisa aja mbok orang kita yang ‘membunuh’ Nya
    kadang2 dan menghidupkan kembali

    *aneh ya..?*

  2. Thx Telah mampir ke Ufonesia Koment km telah di balas oleh moderator.

    Kalau berkenan mas bisa bergabung di milis Ufonesia

    (TUHAN TAKAN PERNAH MATI)

    Salam Ufonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s