Rumi: tentang kepasrahan

Pagi tersambut hujan menghalau matahari mencabik mimpi tanpa embun. Parto terjaga dan berharap ini semua hanya mimpi buruknya, semakin keras dia coba untuk membuang jauh dan lari dari kenyataan semakin dekat dia dengan kenyataan bahwa semua memang terjadi, yah seperti hujan yang benar-benar mebasahi bumi. Beranjak meninggalkan kasur yang mulai susut di makan umur parto berjalan dan duduk menyisakan getirnya membaur bersama hujan yang turun dari trigis-trigis langit pagi. Yang bisa dilakukan hanya menerima hujan kenyataan ini jatuh meskipun tidak bisa menghapus jejak. Seperti bumi yang menerima apa saja dan masih mau menengadah kearah langit, hujani aku lebih deras dan hangatiku dengan siang.

Biarkan usungan itu datang membawamu ke manapun
sepengetahuan belas kasih itu kau harus pergi.

jika kau menjawab Ya, aku tahu, kau akan berpura-pura, agaknya.
Dan jika kau menjawab tidak,
pedang Tidak itu akan membanting jendelamu hingga tertutup terhadap Tuhan
dan memenggal kepalamu.

Diamlah dalam kekacauanmu, dan kebinggungan.
Saat kau benar-benar kosong,
didalam kesunyian itu, kau akan berkata
Bimbinglah aku.
Jika kau sudah menjadi begitu tak berdaya,
kebaikan Tuhan akan beraksi melaluimu.

( Rumi: One handed basket weaving )

3 thoughts on “Rumi: tentang kepasrahan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s