juminten pergi #3

Sore beranjak menuju malam, rintik hujan pun berhenti membiarkan tanah yang basah,hanya sisa sisa air yang bergulir diantara daun daun pohon mangga.

Malam mengampiri dengan segarnya tanah yang sudah mulai menyerap air langit untuk dibagikan kepada kehidupan.diantara titian malam parto tampak baru saja selesai makan dan mulai merapikan warung seperempat menit kemudian dia sudah selesai menutup warung bahagia hari itu.

Ia berjalan pulang menuju rumahnya yang letaknya tidak seberapa jauh dari warung tempat dia bekerja. Kali ini dia berjalan sendiri biasanya soulmate parto alias si jupri selalu menyertai langkah kakinya menuju rumah.

Diantara malam dan bayangan datanglah juprin menghadang perjalanan parto dengan nafas dan raut wajah yang kebinggungan, tegang dan sedikit lelah.

“weh kenapa kamu pri” sambut parto dengan agat terkejut melihat keadaan jupri

“to..anu..e….”jupri menoleh kanan kemudian ke kirim sambil mengaitkan kedua jari jari tangan nya tak kuasa menatap parto

“anu anu…anu kenapa ?”tanya parto

“udah kamu ikut saja”jupri berlalu sambil menarik tangan kanan parto dengan sedikit memaksa.

“walah wong iki “ parto hanya pasrah dan ikut bergesa bersama jupri. Langkah mereka semakin cepat dan setengah berlari melihat kerumunan beberapa orang di depan rumah Juminten. Kali ini parto yang mulai dilanda panik.

“ada apa ini?”tanya parto pada salah satu kerumunan

“Jumintan telah pergi” jawab salah satu dari mereka “bukannya dia memang sudah pergi dari beberapa tahun yang lalu jadi TKW?” parto semakin penasaran dan menyeruak masuk.

Kakinya tiba tiba lemas matanya tertuju pada peti jenasah ditengah ruangan rumah juminten. Terlihat ibu,ayah dan beberapa kerabat dekat juminten duduk disamping peti tersebut. Parto langsung merangkak mendekati ayah juminten, “ pak de, ini ada apa pakde ?” tangan parto memegang bahu dari ayah juminten. Tidak ada jawaban hanya tatapan mata ayah juminten yang basah oleh air mata.

Parto langsung menoleh kearah peti jenasah yang sudah terkemas rapi.Jupri yang menyusul parto segera memperjelas “ Juminten telah mendahului kita semua to “ jupri merangkul tubuh parto yang mematung tanpa kata mendengar kata jupri, hanya air mata yang tanpa disadari kapan mulai jatuh dari sudut sudut kelopak mata nya.

Parto lemas shock dan tak bisa berfikir hanya duduk disamping peti jenasah wanita yang sangat dicintai yang selalu disertakan dalam setiap butiran doa doanya. Bagi parto dunia seakan kosong saat itu semua terasa begitu berbeda begitu asing.

Beberapa jam parto hanya bisa terdiam, air matanya mengering dan terjatuh menerima kenyataan yang tidak diduga secepat ini terjadi.

Drama kehidupan malam itu tak dipedulikan oleh waktu yang seakan buta dan membiarkan episode ini terjadi untuk menuju episode berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s