Buka puasa

Waktu akhirnya mengulingkan sisi bumi belahan Denpasar dan sekitarnya, matahari sudah tidak sepanas tadi siang. Cuaca memang dalam masa peralihan. Beberapa saat sebelum Adzan magrib suasana di kampung jawa ramai dengan berbagai pedagang panganan untuk menu berbuka puasa.

Diantara keramaian Parto berdiri didepan meja dengan beraneka ragam minuman dan kue-kue. Tangan parto sibuk memilah milah bungkusan kolak pisang.

“Berapaan satu buk” tanya Parto

“Biasa dek, 3000 kalau ga nambah es batu ” jawab ibu pedagang dengan logat madura.

” dua 5000 ribu yo buk, saya beli 4 dan kue yang ini 4″ pinta Parto berusaha menawar dengan barter memborong beberapa kue.

“wah kalau semua belanja seperti adek ma lama bisa bangkrut, ga jadi mudik saya”

” ya sudah satu 3000 tapi minta es batunya buk, dikit saja ”

Ibu penjual itu akhirnya mengalah dari debat tawar menawar Parto yang mengakhiri dengan “smile mongkey”nya

Setelah membeli menu berbuka Parto kembali menuju warung, pada sore itu warung masih tutup karena juru masak berkurang satu dengan cara curi start mudik yang dilakukan oleh pak Genthong.

Derit pintu terdengar saat parto mendorong pengangannya dan mendapati sepasang kaki yang bertengger diatas sandaran kursi, selonjor kaki Jupri yang duduk melihat kearah TV.

” We Tuan besar lagi santai sore-sore rupanya” sambutan pembuka kata Parto sambil menutup kembali pintu, berjalan dan meletakkan tas plastik diatas meja.

“Sori to, hari ini saya lemas,semalem saya ketiduran jadi lupa saur, U no ( baca U know ).” Jupri tanpa ekpresi tetap menatap TV.

” A L A S A N ” Parto mengeja kata tersebut dengan sambil berlalu ke dapur beberapa saat kemudian dia sudah kembali dengan dua mangkok dan satu piring di tangannya.

” Nah ini ” Jupri bangun dari pose malasnya dan duduk memeriksa isi tas plastik.

“Yah, Nasi nya mana to kan saya tadi nitip juga belikan nasi sekalian ”

” Nasinya nanti saja pri , menurut para ahli gizi kalau berbuka itu tidak boleh langsung makan dalam porsi besar” parto duduk dan menyodorkan mangkuk kepada Jupri dengan isyarat untuk menuangkan bukusan kolak ke dalam mangkok.

” Ya kalau didalam keadaan tidak saur seperti ini , pendapat ahli gizi mu itu dikesampingkan dulu, bisa ga? lha nanti kalau saya pingsan dayu bisa nangis melihat bli’ ( bli’ sebutan kakak lelaki  ) nya ini pingsan ”

” Yo sabar dulu  laparnya jangan keburu nafsu. paling paling rasa laparmu itu akan hilang atau setidak berkurang setelah kamu makan kolak, tahu isi dan pastel ini pri ” Parto menyodorkan sepiring kue yang baru disalinnya dari kantong plastik kedalam piring.

Melihat keakraban dua sahabat ini seperti malam dengan gelap atau siang dengan terangnya.

Kumandang adzan terdengar jelas dari warung dan seantero kampung jawa. waktu yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Selamat berbuka puasa Parto.

2 thoughts on “Buka puasa”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s