Sore

Awan masih berserakan pada langit sore ini, tipis melayang pelan berusaha menutup biru, Pohon tanah masih segar tersiram hujan pagi hingga siang tadi.

Seiring denting piano dan petikan gitar yang memenuhi ruangan warung dari sumber speaker Hi-Fi yang barusaja dipasang di dinding di dua sudut tembok warung. Backsound music sangat relax dinikmati sore ini teduh dan segar sperti pohon-pohon mangga di depan warung. Parto berdisi memejamkan mata sambil masih memegang piring memutar-mutar permukaanya dengan sebuah kain lap,  alisnya sesekali naik turun mengikuti ritme yang mendayu dari gesekan biola tak lupa kepalanya juga sedikit dimiringkan seolah tak mau kalah dengan nada nada tinggi. Beberapa saat ia sangat menikmati segment drying piring dan tak perdulikan jupri yang sedari tadi selesai memasang speaker mengawasinya. kali ini kepala jupri digeleng-gelengkan bukan untuk mengikuti irama tetapi pasrah dengan keadaan temannya yang mungkin istilah bahasa anak muda jaman sekarang “lebay”. matanya mulai membuka dan meletakkan piring yang mungkin sudah dilap lima puluh putaran saat music berganti dari piano dan gitar akustik menjadi suara gitar khas piyu padi.

“Untung saja piring itu polos to” komplain jupri sambil meletakan palu dimeja pantry dan meletakkan posisi tangannya kepinggannya. ” coba kalau piring itu bergambar pasti sudah pada buram motifnya.” Jupri melanjutkan komplainnya.

“he he he, bener ya pri untung pak Genthong pinter milih piring polos jadi tidak kelihatan motifnya klo sudah buram.” parto kembali melakukan aktifitasnya mengelap piring dengan sesekali menengok kearah jupri yang masih berpose seperti dengan tangan dipinggangnya. kini parto merapatkan bibirnya sampil mengelengkan kepala mengikuti hentakan drum yoyo padi.

“aku itu dari tadi manggil-mangil kamu to, minta tolong ambilkan tangga. sampai capek aku nangkring diatas lemari betulin speaker kamu malah geleng-geleng didapur.”

“ooo tadi itu dirimu pri yang mangil-mangil , he he he yo mangap” parto bergegas menyelesaikan mengelap piring dan pergi

“mau kemana to” tanya jupri yang seolah dicuekin dengan posenya dan berjalan mengikuti parto

“mau kebelakang ambil tangga, kan dirimu minta tangga to” parto menghentikan langkahnya dan berbalik karah jupri

“udah telat”

“oo ya sudah kalau begono”parto kembali kearah dapur

Langit semakin kelabu, Angin sore meluruhkan bulir bulir sisa hujan dari sudut daun.

Ingin sungguh aku bicara
Satu kali saja
Sebagai ungkapan kata… perasaanmu padaku

Telah cukup lama kudiam…
didalam keheningan ini
Kubekukan di bibirku
Tak berdayanya tubuhku

Dan ternyata cinta yang menguatkan aku
Dan ternyata cinta… (tulus mendekap jiwaku)

Kau yang sungguh selalu setia
Menemani kesepianku
Menjaga lelap tidurku
Membasuhku setulusnya

Merekahnya fajar hatiku
Menghangatkan luruhku
Dan resapkan keharuman
Engkau yang mencintaiku

(padi#dan ternyata cinta)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s