Parto pergi #2

Gerimis seakan luruh tertumpah dari tigris atap atap langit, turun berderai bersama dingin pagi, Parto selesai berpamitan dengan semua tetangga kos dan tetangga sekitar warung. Pak Genthong hanya berkaca-kaca melepaskan keponakannya untuk mencari matahari dikaki langit cita-cita yang menjadi keinginannya. Diujung gang seseorang hanya berdiri berpayung menunggu langkah parto sampai dibibir jalan. Parto berjalan berasama Jupri yang memanggul kardus kecil bawaan parto. Jupri membenarkan letak jas hujan yang dikenakannya sambil memandang parto yang sedari awal melangkahkan kaki keluar dari halaman rumah pak genthong hanya tertunduk larut bersama air yang terserap tanah.

Langkah kakinya kian melambat ketika jarak dengan sosok seseorang yang berdiri berteduh dibawah payung itu semakin dekat dan semakin jelas, parto memandang wajah seseorang yang berdiri berpayung itu. Parto menghentikan langkahnya tepat didepan seseorang itu yang ternyata adalah seorang gadis dengan mata layu tanpa cahaya matahari sama seperti pagi ini tanpa sapa matahari. Gadis itu mengankat payungnya agak tinggi dan mengarahkan kearah parto dengan isyarat agar parto berteduh dibawah payung yang dia kenakan, Jupri mengerti perasaan mereka dan mencoba untuk memberi waktu dua orang yang akan segera terpisahkan jarak dan waktu, Jupri pergi dan mengambil motor yang terparkir diterasnya yang tidak jauh dari gang rumah pak genthong.

Rintik hujan yang jatuh menerpa kain payung menjadi irama diantara detak jantung parto, pagi itu semakin kelu dan pilu. Tangan parto meraih jemari tangan gadis yang memegang erat gagang payung seolah tak ingin ada badai atau angin menerbangan payungnya, sperti inginnya memegang erat orang yang dicintainya agar tidak terengut takdir meninggalkan dia sendiri. Tak kuasa menahan keadaan ini gadis itu menangis memeluk erat parto dengan melepaskan gengaman payungnya. Parto dengan sigap mengantikan gengaman payung untuk menghalau gerimis, sementara tangan parto yang lain mengelus punggung gadis itu agar mereda tanggis gadis itu didalam pelukannya.

Gerimis masih saja mengetuk pagi mengukung matahari dengan rintik-rintik repihan awan-awan. sinfoni pagi merlukis romasan menyergap Parto dan gadis itu tak perduli pagi ini tanpa hangat mentari karna cinta mereka telah memberi energi untuk menjadi lebih kuat dengan keadaan ini.

ku iringi langkahmu sampai ke akhir jalan
sungguh berat terasa menyadari semua
di saat terakhirku menatap wajah itu
terpejam kedua mata dan terbang selamanya

inginku mengejar dirimu
menggenggam erat tanganmu
sungguh ku tak rela

* ku tahu kau tak tersenyum melihatku menangis
maka sekuat tenagaku ku relakan saat kepergianmu

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s