pulang

pulang,
kujenguk tanah kelahiranku
kupandangi senyum ibu
diantara kening yang mulai keriput
dijabat otot ayah yang mulai menyusut

aku pulang,
rindu aku cium aroma padi
atau jerami yang mulai mengering
dan pijakan tanah sawah
menyentuh telapak kaki

atau menikmati
rintik hujan
yang menyebarkan
wangi aroma tanah

saat ku pulang.
aku ingin terusik
di subuh pagi
diantara adzan dan pujian

aku pulang,
kembali kupeluk ladang
dimana dulu sering aku berlari,
melompat dan tertawa
dimasa kanak-kanak ku

esok aku akan pergi
dimana ladang lain menungguku
untuk dicangkul dan ditanam

tapi,
aku ingin kau menungguku
sebelum diambang senja
aku akan pulang

Parto, DPS 9 mei 08

Malam singgah menghampiri lelah, sementara parto masih duduk melepas ingatan akan kampung halaman yang baru saja ditinggalkannya.

Rumi: tentang kepasrahan

Pagi tersambut hujan menghalau matahari mencabik mimpi tanpa embun. Parto terjaga dan berharap ini semua hanya mimpi buruknya, semakin keras dia coba untuk membuang jauh dan lari dari kenyataan semakin dekat dia dengan kenyataan bahwa semua memang terjadi, yah seperti hujan yang benar-benar mebasahi bumi. Beranjak meninggalkan kasur yang mulai susut di makan umur parto berjalan dan duduk menyisakan getirnya membaur bersama hujan yang turun dari trigis-trigis langit pagi. Yang bisa dilakukan hanya menerima hujan kenyataan ini jatuh meskipun tidak bisa menghapus jejak. Seperti bumi yang menerima apa saja dan masih mau menengadah kearah langit, hujani aku lebih deras dan hangatiku dengan siang.

Biarkan usungan itu datang membawamu ke manapun
sepengetahuan belas kasih itu kau harus pergi.

jika kau menjawab Ya, aku tahu, kau akan berpura-pura, agaknya.
Dan jika kau menjawab tidak,
pedang Tidak itu akan membanting jendelamu hingga tertutup terhadap Tuhan
dan memenggal kepalamu.

Diamlah dalam kekacauanmu, dan kebinggungan.
Saat kau benar-benar kosong,
didalam kesunyian itu, kau akan berkata
Bimbinglah aku.
Jika kau sudah menjadi begitu tak berdaya,
kebaikan Tuhan akan beraksi melaluimu.

( Rumi: One handed basket weaving )

Rumi: tentang Malaikat Kegagalan

Kau tahu bagaimana itu.
Kadang-kadang kita merencanakan perjalannan ke satu tempat,
tapi sesuatu membawa ktia ke tempat lain…

Tuhan menetapkan keinginnan yang menggairahkan dalam dirimu,
dan kemudian mengecewakanmu.
Tuhan melakukan itu seratus kali!

Tuhan mematahkan sayap-sayap dari satu niat
dan kemudain memberimu sayap lain,
potonglah tali rencana itu,
agar kau selalu ingat akan ketergantunganmu.

Tapi kadang-kadang rencanamu berhasil!
kau merasa puas dan terkendali.

Itu karena, jika kau selalu gagal,
kau mungkin menyerah, Tapi ingat,
karena kegagalan itulah maka mereka yang mencintai
tetap sadar betapa mereka dicintai.

Kegagalan adalah kunci
menuju kerajaan di dalam batin

( Rumi: Feeling the Shoulder of the Lion )

malam kegagalan, bersama impian dan aspirasi mucullah resiko bahwa kita tidak berhasil. Secara lahiriah, harapan terhempas, rencana berguguran dan kemudian kita bertanya mengapa kita bisa percaya pada visi. Secara batiniah, itu hanya seperti pasang surut, penuh keragu-raguan, ketidakpastian dan krisis batin yang mengoda kita untuk jatuh tertidur dari pada menjadi visioner, untuk kehilangan harapan.

Parto hanya lelah dengan keadaan yang tak terduga ini dan terjadi begitu cepat diantara harapan dan tunas rencananya. Dalam kekacauan pikiran direbahkan gundah dipunggung malam dan memejamkan mata memutus visual kenyataan meskipun untuk sesaat. Goodnight parto.

in the END

Kutengelamkan matahari
dalam lautan kesedihan
Agar tak pernah lagi terbit
dan menumbuhkan tunas cinta
Atau,
kutebang saja semua rimba asmara
agar bisa kuciptakan gurun tandus, gersang
dan beku.

Kali kedua
pelukan sayapmu
membawaku terbang

Kali kedua
pisau diantara sayapnya
memutus jaring-jaring nadi
hingga kujatuh lagi
dalam kesakitan

Limbung raga
dimabuk cinta
jerit tawa
kau tinggalkanku sendiri

Sendiri lagi
dicibir bulan
dilolong kelam

Lelah kunikmati pesonamu
yang selalu menari
tarian lama yang sudah jelas
menyisakan dua pilihan.

Pergilah,
kemasi semua kotak sulapmu
dan juga kostum badut itu
aku tak butuh hiburan
Aku ingin sendiri
merasakan sayatan pedih
permainan kejammu.

kau datang menyelinap dalam gelap
saat aku nikmati lelap
dan kini kau pergi
dalam keterjagganku
pergi begitu saja.
tanpa senyum manismu
atau kerlingan matamu
seperti biasanya kau tinggalkanku
untuk kembali esok
bersama pagi.

Aku berlari ke utara
tapi ku dengar suaramu di timur
menyesapi embun-embun.

Lihatlah..
betapa kau membuatku gila
ach..
hentikan getar dawaimu,
karna aku mudah tergoda
dengan buluh perindu.

sungguh kau telah menyiksaku
seperti hati yang kau sentuh dulu
telah hancur
kini kau remukkan lagi sisa hasrat.

cinta kedua
yang berakhir tanpa pesan
mungkin kau bosan
atau ini hanya bagian dari permainan.

Esok akan kupunguti lagi mimpi
setelah kau pergi
tanpa ucapan selamat tinggal
atau sempat kutanyakan kenapa

Kucoba bediri setegar karang
namun bayangmu seperti angin
yang berdesir miris
menyusupi pikiranku

usai
telah berkakhir
sudah

parto Denpasar,6/4 08

Malam terlewat dengan pertanya yang masih belum terjawab, hanya kemungkinan- kemungkinan yang terlintas di antara tanya dan sepi, seperti Peter Pan menyuarakan ‘yang terdalam galaunya’ dari radio di pojok warung yang sudah tutup 4 jam lalu.


Takkan lelah aku menanti
Takkan hilang cintaku ini
Hingga saat kau tak kembali
Kan kukenang di hati saja

Kau telah tinggalkan hati yang terdalam
Hingga tiada cinta yang tersisa
Di jiwa

ragu

mengamati teather malam, bulan hampir menjelang purnama saat keraguan menyergap ladang tanya dibenaknya.

bulan merangkak diatap malam
terbit seperti raguku
pucat ditanya niatmu

sinarnya jatuh diantara harap
tawar disudut gelap

dirimu, diriku diantara waktu
yakinku dihadang ragu

bulan beku menatapku
biar saja dia maki hayalku
mengumpat pikiranku, meretas gelap gundahku

kucabangkan kembali andai
dipijak jalanku saat kau tempuh arahmu

tidak, katakan itu tidak bulan
tidak untuk yang satu ini
katakan kau menunggu
dia dan aku suatu purnama
menatapmu.

Parto, DPs 18/3/08