Arsip Tag: puisi

pulang

pulang,
kujenguk tanah kelahiranku
kupandangi senyum ibu
diantara kening yang mulai keriput
dijabat otot ayah yang mulai menyusut

aku pulang,
rindu aku cium aroma padi
atau jerami yang mulai mengering
dan pijakan tanah sawah
menyentuh telapak kaki

atau menikmati
rintik hujan
yang menyebarkan
wangi aroma tanah

saat ku pulang.
aku ingin terusik
di subuh pagi
diantara adzan dan pujian

aku pulang,
kembali kupeluk ladang
dimana dulu sering aku berlari,
melompat dan tertawa
dimasa kanak-kanak ku

esok aku akan pergi
dimana ladang lain menungguku
untuk dicangkul dan ditanam

tapi,
aku ingin kau menungguku
sebelum diambang senja
aku akan pulang

Parto, DPS 9 mei 08

Malam singgah menghampiri lelah, sementara parto masih duduk melepas ingatan akan kampung halaman yang baru saja ditinggalkannya.

Iklan

in the END

Kutengelamkan matahari
dalam lautan kesedihan
Agar tak pernah lagi terbit
dan menumbuhkan tunas cinta
Atau,
kutebang saja semua rimba asmara
agar bisa kuciptakan gurun tandus, gersang
dan beku.

Kali kedua
pelukan sayapmu
membawaku terbang

Kali kedua
pisau diantara sayapnya
memutus jaring-jaring nadi
hingga kujatuh lagi
dalam kesakitan

Limbung raga
dimabuk cinta
jerit tawa
kau tinggalkanku sendiri

Sendiri lagi
dicibir bulan
dilolong kelam

Lelah kunikmati pesonamu
yang selalu menari
tarian lama yang sudah jelas
menyisakan dua pilihan.

Pergilah,
kemasi semua kotak sulapmu
dan juga kostum badut itu
aku tak butuh hiburan
Aku ingin sendiri
merasakan sayatan pedih
permainan kejammu.

kau datang menyelinap dalam gelap
saat aku nikmati lelap
dan kini kau pergi
dalam keterjagganku
pergi begitu saja.
tanpa senyum manismu
atau kerlingan matamu
seperti biasanya kau tinggalkanku
untuk kembali esok
bersama pagi.

Aku berlari ke utara
tapi ku dengar suaramu di timur
menyesapi embun-embun.

Lihatlah..
betapa kau membuatku gila
ach..
hentikan getar dawaimu,
karna aku mudah tergoda
dengan buluh perindu.

sungguh kau telah menyiksaku
seperti hati yang kau sentuh dulu
telah hancur
kini kau remukkan lagi sisa hasrat.

cinta kedua
yang berakhir tanpa pesan
mungkin kau bosan
atau ini hanya bagian dari permainan.

Esok akan kupunguti lagi mimpi
setelah kau pergi
tanpa ucapan selamat tinggal
atau sempat kutanyakan kenapa

Kucoba bediri setegar karang
namun bayangmu seperti angin
yang berdesir miris
menyusupi pikiranku

usai
telah berkakhir
sudah

parto Denpasar,6/4 08

Malam terlewat dengan pertanya yang masih belum terjawab, hanya kemungkinan- kemungkinan yang terlintas di antara tanya dan sepi, seperti Peter Pan menyuarakan ‘yang terdalam galaunya’ dari radio di pojok warung yang sudah tutup 4 jam lalu.


Takkan lelah aku menanti
Takkan hilang cintaku ini
Hingga saat kau tak kembali
Kan kukenang di hati saja

Kau telah tinggalkan hati yang terdalam
Hingga tiada cinta yang tersisa
Di jiwa

ragu

mengamati teather malam, bulan hampir menjelang purnama saat keraguan menyergap ladang tanya dibenaknya.

bulan merangkak diatap malam
terbit seperti raguku
pucat ditanya niatmu

sinarnya jatuh diantara harap
tawar disudut gelap

dirimu, diriku diantara waktu
yakinku dihadang ragu

bulan beku menatapku
biar saja dia maki hayalku
mengumpat pikiranku, meretas gelap gundahku

kucabangkan kembali andai
dipijak jalanku saat kau tempuh arahmu

tidak, katakan itu tidak bulan
tidak untuk yang satu ini
katakan kau menunggu
dia dan aku suatu purnama
menatapmu.

Parto, DPs 18/3/08