Arsip Tag: Rumi

Rumi: tentang kepasrahan

Pagi tersambut hujan menghalau matahari mencabik mimpi tanpa embun. Parto terjaga dan berharap ini semua hanya mimpi buruknya, semakin keras dia coba untuk membuang jauh dan lari dari kenyataan semakin dekat dia dengan kenyataan bahwa semua memang terjadi, yah seperti hujan yang benar-benar mebasahi bumi. Beranjak meninggalkan kasur yang mulai susut di makan umur parto berjalan dan duduk menyisakan getirnya membaur bersama hujan yang turun dari trigis-trigis langit pagi. Yang bisa dilakukan hanya menerima hujan kenyataan ini jatuh meskipun tidak bisa menghapus jejak. Seperti bumi yang menerima apa saja dan masih mau menengadah kearah langit, hujani aku lebih deras dan hangatiku dengan siang.

Biarkan usungan itu datang membawamu ke manapun
sepengetahuan belas kasih itu kau harus pergi.

jika kau menjawab Ya, aku tahu, kau akan berpura-pura, agaknya.
Dan jika kau menjawab tidak,
pedang Tidak itu akan membanting jendelamu hingga tertutup terhadap Tuhan
dan memenggal kepalamu.

Diamlah dalam kekacauanmu, dan kebinggungan.
Saat kau benar-benar kosong,
didalam kesunyian itu, kau akan berkata
Bimbinglah aku.
Jika kau sudah menjadi begitu tak berdaya,
kebaikan Tuhan akan beraksi melaluimu.

( Rumi: One handed basket weaving )

Rumi: tentang Malaikat Kegagalan

Kau tahu bagaimana itu.
Kadang-kadang kita merencanakan perjalannan ke satu tempat,
tapi sesuatu membawa ktia ke tempat lain…

Tuhan menetapkan keinginnan yang menggairahkan dalam dirimu,
dan kemudian mengecewakanmu.
Tuhan melakukan itu seratus kali!

Tuhan mematahkan sayap-sayap dari satu niat
dan kemudain memberimu sayap lain,
potonglah tali rencana itu,
agar kau selalu ingat akan ketergantunganmu.

Tapi kadang-kadang rencanamu berhasil!
kau merasa puas dan terkendali.

Itu karena, jika kau selalu gagal,
kau mungkin menyerah, Tapi ingat,
karena kegagalan itulah maka mereka yang mencintai
tetap sadar betapa mereka dicintai.

Kegagalan adalah kunci
menuju kerajaan di dalam batin

( Rumi: Feeling the Shoulder of the Lion )

malam kegagalan, bersama impian dan aspirasi mucullah resiko bahwa kita tidak berhasil. Secara lahiriah, harapan terhempas, rencana berguguran dan kemudian kita bertanya mengapa kita bisa percaya pada visi. Secara batiniah, itu hanya seperti pasang surut, penuh keragu-raguan, ketidakpastian dan krisis batin yang mengoda kita untuk jatuh tertidur dari pada menjadi visioner, untuk kehilangan harapan.

Parto hanya lelah dengan keadaan yang tak terduga ini dan terjadi begitu cepat diantara harapan dan tunas rencananya. Dalam kekacauan pikiran direbahkan gundah dipunggung malam dan memejamkan mata memutus visual kenyataan meskipun untuk sesaat. Goodnight parto.