Jatuh

Ku terbang bersama pelangi harapan

Dan ku berseru “…akhirnya….”

Lalu apa yang terjadi..?

Dan ku berseru”…..akhirnya…!

Kembali ini terjadi

Semua itu hanya mimpi

Terlalu tinggi ku terbang

Tanpa aku sadari aku tak bersayap.

Sudah sering ini kulalui

Sayap-sayap yang tumbuh

Lenyap dan raib setiba ku jauh di awang

Kenapa…?hanya itu yang tersisa.

Betapa rapi dan halus rajutan angan

Namun benang hayal itu terlalu rapuh

Hingga hanya melewatkan waktu sia-sia

Karena akan selalu begini akhirnya.

(parto,ubung 30/01/05)

Iklan

Tanya Kenapa?

Kenapa kebudayaan bali masih exist dan hampir utuh seperti jama dulu dari orang bisa sampai paraketurunan raja,Indonesia ini sangant luas dan memang kaya akan budaya serta alam yang sangat indah makanya klo ada pengahargaan acara tv terbaik maka acara si bolang yang paling akan dapet( tapi kenyataanya tidka tuch ).

mungkin tidak seperti di tempat lain ( maaf klo penulis tidak begitu tau di tempat lain seperti apa ) klo di bali dari anak kecil sampai orang tua masih menjalankan apa yg nenek moyang mereka wariskan,mulai cara berpakain, bersembahyang, dan bermasyarakat.

di bali para pemuda tidak canggung atau merasa gengsi ketika memainkan gamelan dan menari dan ketika mereka memainkan gamelan harus memakai pakain adat mesti tidak lengkap tapi masih memakai kain dan udeng( ikat kepala ), sama halnya ketika ada cara di Banjar ( seperti rw )menghadiri upacara kematian, pernikahan dan kegiatan adat lain mereka harus memakai pakaian adat. Meskipun arus globalisasi deras melanda bali namun tetap masyarakat masih memegang teguh budaya mereka.

Disni letak perbedaanya dengan kelangsungan budaya di tempat lain yang mulai hilang,Misalnya di daerah jawa terdapat banyak sekali budaya yang sangat bagus namun sekarang ini jarang sekali para pemuda atau masyarakatnya kurang peduli dengan warisan nenek moyang mereka. Mereka hanya berpakain adat jika ada pertunjukan budaya dan kegitan tertentu saja dengan alasan kuno dan kurang praktis,seperti penulis penah liat di tv waktu upacara mulai giling tebu di daerah bantul klo tidak salah. Diupacara kegiatan itu seharusnya dan dulunya para pawai memakai pakain adat.pertunjukan wayang kulit yang dulu hampir ada di setiap tempat sekarang sudah amat jarang sekali mungkin hanya para dalang yang terkenal yang masih memiliki job.

Kehidupan masyarakat jawa dengan budayannya dalam sehari hari mungkin hanya ditemui di lingkungan keraton namun berbeda ketika di kehidupan nyata. Dalam acara kick andy di metro tv ada WNA yang belajar menari dan mendalang, juga ada dalam wanita di ameriaka yang masih mengeluti profesinya sebagai dalang. Lalu kapan kita akan meneruskan budaya sendiri?atau kita biarkan budayan kita hanya da didalam buku buku sejarah.

Musa dan seorang gembala

Musa mendengar seorang gembala domba di jalan sedang berdoa,

“ Tuhan, dimana Engkau? Aku ingin menolong-Mu,

Memperbaiki sepatu-Mu dan menyisir rambut-Mu.

Aku ingin mencuci pakaian-Mu dan membuang kutu di rambut-MU.

Aku ingin membawakan-Mu susu,mencium tangan dan kaki-Mu yang mungil saat tiba waktu-Mu pergi tidur.

Aku ingin menyapu kamar-Mu dan membuatnya tetap rapi.

Tuhan, domba dan kambingku milik-Mu.

Yang dapat kukatakan saat mengingat-Mu, hanyalah ayyyy dan ahhhhhhh.”

 

Musa tidak tahan lagi.

 

“ Dengan siapa engkau berbicara?”

Dia yang menciptakan kita,menciptakan bumi dan langit.

Jangan bicara tentang sepatu dan kaus kaki dengan Tuhan!

Dan apa maksudnya tangan dan kaki-Mu yang mungil?

Benar-benar sok akrab, seakan akan kau mengobrol dengan pamamu.

Hanya yang tumbuh saja yang butuh susu.

Hanya yang punya kaki saja yang butuh sepatu.

Bukan Tuhan!

 

Bahkan jika yang kau maksud gambaran Tuhan sebagai manusia,

Seperti Tuhan berfirman, ‘Aku sakit, dan kau tidak mengunjungiku,’

Nada ini pun terdengar tolol dan tidak relevan.

 

Gunakan istilah yang tepat.Fatima nama yang bagus untuk wanita

Tapi jika kau pangil seorang pria Fatima itu namanya penghinaan.

Bahasa tubuh dan kelahiran cocok untuk kita di tepi sungai bagian ini,

Tapi tidak untuk sumber Tertinggi,

Tidak untuk Allah.”

 

Gembala itu bertobat dan merobek-robek pakainnya dan mendesah dan berkelana ke tengah padang pasir.

Subuah wahyu mendadak turun kepada Musa. Suara Tuhan:

Kau telah memisahkan aku dari salahsatu hamba-Ku.

Apakah kau datang sebagai nabi untuk menyatukan atau memisahkan?

Aku telah memberi tiap makluk cara tersendiri dan unik untuk melihat dan mengetahui

Dan mengucapkan pengetahuan itu.

 

Apa yang tampak salah dimatamu itu benar dimatanya.

Apa yang dianggap racun oleh seseorang bisa jadi madu bagi orang lain

 

Yang suci dan yang kotor, yang malas dan yang rajin dalam pemujaan tidak ada arti bagi-Ku.

Aku jauh dari semua itu.

Cara-cara pemujaan bukan untuk dinilai lebih baik atau lebih buruk dibanding satu sama lainnya.

Kaum Hindu menjalankan ajan Hindu.

Kaum Muslim dravidia di India menjalalkan cara mereka sendiri.

Semua itu ibadah, dan semua nya benar.

 

Bukan Aku yang dimuliakan dalam pemujaan,

Melainkan para pemuja itu sendiri!

Aku tidak mendengar kata kata yang mereka ucapkan.

Aku memandang kedalam kerendahan hati.

 

Kerendahan hati yang terbuka itulah Realitas,bukan bahasa!

Lupakan fraseologi.

Aku ingin api, api.

Bersahabatklah degan apimu.

Bakar pemikiranmu dan bentuk-bentuk ungkapanmu!

Musa,

Mereka yang memperhatikan cara-cara berperilaku dan berbicara itu tidak sama

Dengan para Kekasih yang saling membakar satu sama lain.

 

Saat whayu selesai,Musa berlari mengejar si gembala :

……….”Aku keliru.Tuhan telah berfirman kepadaku bahwa tidak ada aturan untuk beribadah.

Ucapkan apa pun dan dengan cara bagaimana pun yang kauinginkan dengan segenap cintamu.

Hujatanmu yang manis adalah pemujaan yang paling murni.

Melaui engkau seluruh dunia terbebas.

Bebaskan lidahmu dan jangan takutkan apa yang akan keluar.

Itu  semua Cahaya Ruh.”

 

Gembala itu menyahut,

“Musa, Musa,

Aku sudah melangkah lebih jauh dari itu.

Kau menggunakan cambuk dan kudaku melompat dan mudur karena ketakutan.

Hakikat Ilahi dan hakikat kemanusiaanku menyatu.

Diberkatilah tangan dan lenganmu yang suka memaki.

Aku tidak dapat menceritakan apa yang telah terjadi.

Yang kuucapkan sekarang bukanlah keadaaku yang sebenarnya.

Itu takkan terucap.”

( Rumi:cinta,jiwa dan kebebasan di jalan sufi )