life must go on

..Life Must Go On..itulah sepenggal kalimat yang harus parto ingat, Hidup masih harus diteruskan dan peran masih harus terus dimainkan sampai nanti cerita tokoh ini selesai.

Awal tahun yang sangat berat untuk dilalui parto, satu demi satu fajar didadanya padam dan menyesakkan dadanya, belum kering tetesan kesediahan bertambah lagi dengan kenyaataan mengilas yang sungguh diluar perkiraan dan harapan. Namun begitulah hidup kadang ujian akan selalu datang, sampai benar-benar paham apa yang dimaksudkan dalam perjalanan ini.

” buka jam berapa warung hari ini to ? ” tanya Jupri, Parto tidak melihat pada temannya yang duduk di seberang mejanya  sambil memencet mencet remote tv. ” hari ini libur pri, P Genthong mau mudik jadi hari ini bantuin berkemas-kemas”  jawab Parto sambil asyik mencatat menu disebuah tabloit mingguan edisi puasa dan lebaran. Jupri hanya melihat sekilas pada sahabatnya itu, dalam hatinya merasa bersyukur karena sedikit demi sedikit Parto sudah bangkit dari keadaan, paling tidak sudah agak membaik setelah kepergian Juminten dan kepergian keponakannya untuk selamanya.

..WKWKWKWKWKWKWKWKWK…..

Jupri terkejut dan spontan mengankat kakinya ke atas kursi ketika tiba tiba parto tertawa terbahak bahak melihat tanyangan bernard bear yang tidak sengaja di pilih oleh remot Jupri.

…wah kamu itu tertawa g pake permisi, Assalammualaikum kek…protes Jupri sambil memungut remot yang jatuh di lantai.

begitulah kehidupan Parto kembali hampir sediakala, mesti tidak sama dan tidak akan pernah sama setelah separo dari nyawanya pergi.

Iklan

juminten pergi #4

” biarlah kusimpan, sampai nanti aku
kan ada disana,temani dirimu dalam kedamaian
ingatlah cintaku, kau tak terlihat lagi
namun cintamu abadi…… ”

Sepenggal lirik lagu kerispatih ini terbang besama angan parto yang sedari pagi duduk dan melamun, pagi yang dingin bertambah dingin sebeku hati parto dan sekaku tubuhnya yang mematung.

pak genthong hanya menghela nafas panjang dan sesekali mengelengkan kepalanya melihat keponakannya yang dulu ibarat riuh burung parau yang selalu bersuara kini seperti kehilangan ‘soul’ hanya terkulai lemas dilindas kenyataan yang mungkin tidak pernah ia bayangkan secepat ini terjadi.

juminten pergi #3

Sore beranjak menuju malam, rintik hujan pun berhenti membiarkan tanah yang basah,hanya sisa sisa air yang bergulir diantara daun daun pohon mangga.

Malam mengampiri dengan segarnya tanah yang sudah mulai menyerap air langit untuk dibagikan kepada kehidupan.diantara titian malam parto tampak baru saja selesai makan dan mulai merapikan warung seperempat menit kemudian dia sudah selesai menutup warung bahagia hari itu.

Ia berjalan pulang menuju rumahnya yang letaknya tidak seberapa jauh dari warung tempat dia bekerja. Kali ini dia berjalan sendiri biasanya soulmate parto alias si jupri selalu menyertai langkah kakinya menuju rumah.

Diantara malam dan bayangan datanglah juprin menghadang perjalanan parto dengan nafas dan raut wajah yang kebinggungan, tegang dan sedikit lelah.

“weh kenapa kamu pri” sambut parto dengan agat terkejut melihat keadaan jupri

“to..anu..e….”jupri menoleh kanan kemudian ke kirim sambil mengaitkan kedua jari jari tangan nya tak kuasa menatap parto

“anu anu…anu kenapa ?”tanya parto

“udah kamu ikut saja”jupri berlalu sambil menarik tangan kanan parto dengan sedikit memaksa.

“walah wong iki “ parto hanya pasrah dan ikut bergesa bersama jupri. Langkah mereka semakin cepat dan setengah berlari melihat kerumunan beberapa orang di depan rumah Juminten. Kali ini parto yang mulai dilanda panik.

“ada apa ini?”tanya parto pada salah satu kerumunan

“Jumintan telah pergi” jawab salah satu dari mereka “bukannya dia memang sudah pergi dari beberapa tahun yang lalu jadi TKW?” parto semakin penasaran dan menyeruak masuk.

Kakinya tiba tiba lemas matanya tertuju pada peti jenasah ditengah ruangan rumah juminten. Terlihat ibu,ayah dan beberapa kerabat dekat juminten duduk disamping peti tersebut. Parto langsung merangkak mendekati ayah juminten, “ pak de, ini ada apa pakde ?” tangan parto memegang bahu dari ayah juminten. Tidak ada jawaban hanya tatapan mata ayah juminten yang basah oleh air mata.

Parto langsung menoleh kearah peti jenasah yang sudah terkemas rapi.Jupri yang menyusul parto segera memperjelas “ Juminten telah mendahului kita semua to “ jupri merangkul tubuh parto yang mematung tanpa kata mendengar kata jupri, hanya air mata yang tanpa disadari kapan mulai jatuh dari sudut sudut kelopak mata nya.

Parto lemas shock dan tak bisa berfikir hanya duduk disamping peti jenasah wanita yang sangat dicintai yang selalu disertakan dalam setiap butiran doa doanya. Bagi parto dunia seakan kosong saat itu semua terasa begitu berbeda begitu asing.

Beberapa jam parto hanya bisa terdiam, air matanya mengering dan terjatuh menerima kenyataan yang tidak diduga secepat ini terjadi.

Drama kehidupan malam itu tak dipedulikan oleh waktu yang seakan buta dan membiarkan episode ini terjadi untuk menuju episode berikutnya.