Oleh: baliazura | Desember 20, 2011

Sore

Awan masih berserakan pada langit sore ini, tipis melayang pelan berusaha menutup biru, Pohon tanah masih segar tersiram hujan pagi hingga siang tadi.

Seiring denting piano dan petikan gitar yang memenuhi ruangan warung dari sumber speaker Hi-Fi yang barusaja dipasang di dinding di dua sudut tembok warung. Backsound music sangat relax dinikmati sore ini teduh dan segar sperti pohon-pohon mangga di depan warung. Parto berdisi memejamkan mata sambil masih memegang piring memutar-mutar permukaanya dengan sebuah kain lap,  alisnya sesekali naik turun mengikuti ritme yang mendayu dari gesekan biola tak lupa kepalanya juga sedikit dimiringkan seolah tak mau kalah dengan nada nada tinggi. Beberapa saat ia sangat menikmati segment drying piring dan tak perdulikan jupri yang sedari tadi selesai memasang speaker mengawasinya. kali ini kepala jupri digeleng-gelengkan bukan untuk mengikuti irama tetapi pasrah dengan keadaan temannya yang mungkin istilah bahasa anak muda jaman sekarang “lebay”. matanya mulai membuka dan meletakkan piring yang mungkin sudah dilap lima puluh putaran saat music berganti dari piano dan gitar akustik menjadi suara gitar khas piyu padi.

“Untung saja piring itu polos to” komplain jupri sambil meletakan palu dimeja pantry dan meletakkan posisi tangannya kepinggannya. ” coba kalau piring itu bergambar pasti sudah pada buram motifnya.” Jupri melanjutkan komplainnya.

“he he he, bener ya pri untung pak Genthong pinter milih piring polos jadi tidak kelihatan motifnya klo sudah buram.” parto kembali melakukan aktifitasnya mengelap piring dengan sesekali menengok kearah jupri yang masih berpose seperti dengan tangan dipinggangnya. kini parto merapatkan bibirnya sampil mengelengkan kepala mengikuti hentakan drum yoyo padi.

“aku itu dari tadi manggil-mangil kamu to, minta tolong ambilkan tangga. sampai capek aku nangkring diatas lemari betulin speaker kamu malah geleng-geleng didapur.”

“ooo tadi itu dirimu pri yang mangil-mangil , he he he yo mangap” parto bergegas menyelesaikan mengelap piring dan pergi

“mau kemana to” tanya jupri yang seolah dicuekin dengan posenya dan berjalan mengikuti parto

“mau kebelakang ambil tangga, kan dirimu minta tangga to” parto menghentikan langkahnya dan berbalik karah jupri

“udah telat”

“oo ya sudah kalau begono”parto kembali kearah dapur

Langit semakin kelabu, Angin sore meluruhkan bulir bulir sisa hujan dari sudut daun.

Ingin sungguh aku bicara
Satu kali saja
Sebagai ungkapan kata… perasaanmu padaku

Telah cukup lama kudiam…
didalam keheningan ini
Kubekukan di bibirku
Tak berdayanya tubuhku

Dan ternyata cinta yang menguatkan aku
Dan ternyata cinta… (tulus mendekap jiwaku)

Kau yang sungguh selalu setia
Menemani kesepianku
Menjaga lelap tidurku
Membasuhku setulusnya

Merekahnya fajar hatiku
Menghangatkan luruhku
Dan resapkan keharuman
Engkau yang mencintaiku

(padi#dan ternyata cinta)

Oleh: baliazura | Oktober 8, 2011

Menunggu pagi

…Malam merapatkan sepinya pada waktu 02:53 saat ini parto belum juga memejamkan matanya,meskipun dipaksakan tetap saya matanya tidak mau terpejam dan mengantar lelap. Masa lalu kembali memburunya mengikuti kemana saja pikirannya pergi, masa depan masih mengelayut seperti bendulu yang bergerak kekanan dan kekiri banyak sekali keputusan yang akan diambil dan banyak juga pertimbangan yang harus dipikirkan ulang. Tahun 2011 sudah menapaki tangga kesepuluh dua langkah lagi dia akan mendapati 2012. Hem…sungguh masa depan yang tidak bisa diprediksi. Parto mengambil nafas dalam dalam dan membuangnya seolah mengeluarkan semua keraguan yang menyesaki ruang dadanya.

Masih 04:27 dini hari, sebentar lagi iseng dari kokok ayam jago akan terdengar yah itupun jika saat ini ada di kampungnya namun ini kota Denpasar yang ada hanya klakson angkot, mobil pick up dan suara deru motor yang menandai awal pagi sudah dimulai. Malam ini parto biarkan pikirannya kalut bersama malam yang kian larut yang hampir mendekati ujung pagi. Dalam pikirannya parto akan meminta break dua jam atau tiga jam untuk mengistirahatkan tubuhnya mendiamkan pikirannya setelah selesai menyiapkan menu masakan hari ini. Dan sekarang 4:35 parto masih menunggu pagi.

Oleh: baliazura | Agustus 29, 2010

Buka puasa

Waktu akhirnya mengulingkan sisi bumi belahan Denpasar dan sekitarnya, matahari sudah tidak sepanas tadi siang. Cuaca memang dalam masa peralihan. Beberapa saat sebelum Adzan magrib suasana di kampung jawa ramai dengan berbagai pedagang panganan untuk menu berbuka puasa.

Diantara keramaian Parto berdiri didepan meja dengan beraneka ragam minuman dan kue-kue. Tangan parto sibuk memilah milah bungkusan kolak pisang.

“Berapaan satu buk” tanya Parto

“Biasa dek, 3000 kalau ga nambah es batu ” jawab ibu pedagang dengan logat madura.

” dua 5000 ribu yo buk, saya beli 4 dan kue yang ini 4″ pinta Parto berusaha menawar dengan barter memborong beberapa kue.

“wah kalau semua belanja seperti adek ma lama bisa bangkrut, ga jadi mudik saya”

” ya sudah satu 3000 tapi minta es batunya buk, dikit saja “

Ibu penjual itu akhirnya mengalah dari debat tawar menawar Parto yang mengakhiri dengan “smile mongkey”nya

Setelah membeli menu berbuka Parto kembali menuju warung, pada sore itu warung masih tutup karena juru masak berkurang satu dengan cara curi start mudik yang dilakukan oleh pak Genthong.

Derit pintu terdengar saat parto mendorong pengangannya dan mendapati sepasang kaki yang bertengger diatas sandaran kursi, selonjor kaki Jupri yang duduk melihat kearah TV.

” We Tuan besar lagi santai sore-sore rupanya” sambutan pembuka kata Parto sambil menutup kembali pintu, berjalan dan meletakkan tas plastik diatas meja.

“Sori to, hari ini saya lemas,semalem saya ketiduran jadi lupa saur, U no ( baca U know ).” Jupri tanpa ekpresi tetap menatap TV.

” A L A S A N ” Parto mengeja kata tersebut dengan sambil berlalu ke dapur beberapa saat kemudian dia sudah kembali dengan dua mangkok dan satu piring di tangannya.

” Nah ini ” Jupri bangun dari pose malasnya dan duduk memeriksa isi tas plastik.

“Yah, Nasi nya mana to kan saya tadi nitip juga belikan nasi sekalian “

” Nasinya nanti saja pri , menurut para ahli gizi kalau berbuka itu tidak boleh langsung makan dalam porsi besar” parto duduk dan menyodorkan mangkuk kepada Jupri dengan isyarat untuk menuangkan bukusan kolak ke dalam mangkok.

” Ya kalau didalam keadaan tidak saur seperti ini , pendapat ahli gizi mu itu dikesampingkan dulu, bisa ga? lha nanti kalau saya pingsan dayu bisa nangis melihat bli’ ( bli’ sebutan kakak lelaki  ) nya ini pingsan “

” Yo sabar dulu  laparnya jangan keburu nafsu. paling paling rasa laparmu itu akan hilang atau setidak berkurang setelah kamu makan kolak, tahu isi dan pastel ini pri ” Parto menyodorkan sepiring kue yang baru disalinnya dari kantong plastik kedalam piring.

Melihat keakraban dua sahabat ini seperti malam dengan gelap atau siang dengan terangnya.

Kumandang adzan terdengar jelas dari warung dan seantero kampung jawa. waktu yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Selamat berbuka puasa Parto.

Oleh: baliazura | Agustus 25, 2010

life must go on

..Life Must Go On..itulah sepenggal kalimat yang harus parto ingat, Hidup masih harus diteruskan dan peran masih harus terus dimainkan sampai nanti cerita tokoh ini selesai.

Awal tahun yang sangat berat untuk dilalui parto, satu demi satu fajar didadanya padam dan menyesakkan dadanya, belum kering tetesan kesediahan bertambah lagi dengan kenyaataan mengilas yang sungguh diluar perkiraan dan harapan. Namun begitulah hidup kadang ujian akan selalu datang, sampai benar-benar paham apa yang dimaksudkan dalam perjalanan ini.

” buka jam berapa warung hari ini to ? ” tanya Jupri, Parto tidak melihat pada temannya yang duduk di seberang mejanya  sambil memencet mencet remote tv. ” hari ini libur pri, P Genthong mau mudik jadi hari ini bantuin berkemas-kemas”  jawab Parto sambil asyik mencatat menu disebuah tabloit mingguan edisi puasa dan lebaran. Jupri hanya melihat sekilas pada sahabatnya itu, dalam hatinya merasa bersyukur karena sedikit demi sedikit Parto sudah bangkit dari keadaan, paling tidak sudah agak membaik setelah kepergian Juminten dan kepergian keponakannya untuk selamanya.

..WKWKWKWKWKWKWKWKWK…..

Jupri terkejut dan spontan mengankat kakinya ke atas kursi ketika tiba tiba parto tertawa terbahak bahak melihat tanyangan bernard bear yang tidak sengaja di pilih oleh remot Jupri.

…wah kamu itu tertawa g pake permisi, Assalammualaikum kek…protes Jupri sambil memungut remot yang jatuh di lantai.

begitulah kehidupan Parto kembali hampir sediakala, mesti tidak sama dan tidak akan pernah sama setelah separo dari nyawanya pergi.

Oleh: baliazura | Februari 5, 2010

juminten pergi 5#

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.